SEBUAH TINJAUAN AKUNTANSI ATAS PENGUKURAN
DAN PELAPORAN KNOWLEDGE
Agnes Utari Widyaningdyah
Abstract
Recent advances shifted the economies into information age where people interact with
knowledge. In this new economy, knowledge management and intellectual capital are emerging as the
primary source of wealth. Some companies in
measurement techniques and provide it in particular report called knowledge and intellectual capital
report. But, all techniques and reports have limitation and many suffer from a lack of practical testing.
They need to standardize in order to give a better perception for the participant of the organizations.
This paper looks at the nature of knowledge, discussion of proposed alternative methods of
knowledge accounting and the prospects and possibilities for knowledge accounting.
Keywords: knowledge, knowledge accounting, measuring, reporting
PENDAHULUAN
Revolusi dalam bidang ekonomi membawa dampak perubahan yang cukup radikal dalam
cara pengelolaan suatu bisnis dan penentuan strategi bersaing. Hal ini dipicu dengan munculnya
virtual company dan bisnis dot com, dimana informasi menjadi suatu hal yang vital bagi
kemajuan bisnis, yang kemudian disebut oleh Toffler sebagai era informasi (Information Age).
kepemilikan mesin-mesin industri, tetapi lebih pada inovasi, informasi, dan knowledge sumber
daya manusia yang dimilikinya, dengan kata lain, aktiva takberwujud (intagible assets)
mendapat perhatian yang lebih serius jika dibandingkan dengan aktiva berwujud (tangible
assets).
Istilah-istilah seperti knowledge management, intellectual capital, knowledge
organization, human capital banyak bermunculan seiring dengan perubahan atas nilai ekonomis
suatu organisasi. Istilah-istilah tersebut juga mewakili perubahan paradigma atas keunggulan
The 2nd National Conference UKWMS
kompetitif organisasi yang sekarang ini menitikberatkan pada kemampuan individu dalam suatu
organisasi. Munculnya teknologi informasi juga ikut memicu pertumbuhan organisasi yang
berbasis knowledge, dimana knowledge menjadi senjata untuk memenangkan persaingan bisnis.
Organisasi semakin menyadari akan pentingnya knowledge asset sebagai salah satu
bentuk aset takberwujud. Standfield (1999) percaya akan dampak yang sangat nyata atas aset
takberwujud ini, bahkan dari hasil studinya dia mengambil kesimpulan bahwa eksekutif mulai
kehilangan kepercayaan atas data historis laporan keuangan dan mulai menggunakan informasi
tambahan untuk keperluan pengambilan keputusan strategis. Dengan kata lain, akuntansi
tradisional yang sudah 500 tahun digunakan sebagai dasar pembuatan laporan keuangan saat ini
gagal dalam mengadaptasi perubahan ekonomi yang cukup radikal (Edvinsson dan Malone, 1997
dalam Stone dan Warsono, 2003).
Kritik tajam atas keberadaan akuntansi tradisional sebenarnya berpangkal pada 2 hal: (1)
mesin produktivitas di era ekonomi baru adalah knowledge, bukan kapital fisik, (2) akuntansi
keuangan dan manajemen terjebak oleh model-model industri dimana kapital fisik sebagai
pemampunya (
mudah untuk mengganti praktik yang sudah ratusan tahun berlangsung, di lain pihak ada tuntutan
untuk mengubah asumsi-asumsi yang mendasari akuntansi tradisional.
Artikel ini akan membahas pro maupun kontra tentang keberadaan akuntansi tradisional
dalam mengukur, mengakui, dan melaporkan knowledge asset, diskusi tentang model-model
pengukuran knowledge asset dan prospek serta kemungkinan diterapkannya knowledge
accounting.
The 2nd National Conference UKWMS
PEMBAHASAN
Knowledge dan Knowledge Asset
Pada dasarnya knowledge adalah sesuatu yang abstrak dan takberwujud (intangible).
Menurut Webster’s New Collegiate Dictionary, knowledge adalah “the range of one’s
information or understanding”. Informasi diartikan sebagai “knowledge obtained from
investigation, study, or instruction.” (Holsapple et al. 2003). Definisi knowledge secara leksikal
sulit untuk dipahami, karena tidak mampu mendeskripsikan knowledge secara jelas. Oleh karena
itu Holsapple et al. (2003) mengumpulkan beberapa perspektif knowledge dari beberapa ahli
untuk membantu memahami makna knowledge dengan lebih jelas.
Perspektif sistem yang dikemukakan oleh Newell, melihat knowledge sebagai “sesuatu”
yang diwujudkan dalam usable representation (tampilan yang bermanfaat) (Holsapple, 2003)
Menurut Newell ada dua ide yang mendasari perspektif ini, yaitu representation dan usability.
Representation (tampilan) adalah beberapa susunan dalam waktu atau ruang. Terdapat beberapa
bentuk tampilan, seperti kata-kata dalam suatu percakapan, diagram, foto, dan pola perilaku
seseorang. Jadi tampilan yang dimaksud ini dapat berupa objek maupun proses. Ide dasar
berikutnya adalah usability (kegunaan) yang berpandangan bahwa knowledge tidak akan terpisah
dengan pemroses-nya yang memiliki sebuah tampilan yang mencari bentuk kegunaannya.
Tingkat kegunaan mungkin dapat ditaksir dengan kecepatan, ketepatan, dan kepuasan pemroses
dalam hubungannya dengan tindakan yang dilakukan. Kegunaan suatu tampilan tertentu dari
suatu pemroses dipengaruhi oleh kesesuaian antara tampilan dengan pemroses, tindakan/tugas
yang diusahakan oleh pemroses, lingkungan dimana tindakan dilakukan.
Berbeda dengan Newell, Van Lohuizen (dalam Holsaple, 2003) berpandangan bahwa
knowledge dapat diuraikan menjadi beberapa bentuk, yaitu data, informasi, informasi yang
The 2nd National Conference UKWMS
terstruktur, insight (wawasan), judgment (pertimbangan), dan decision (keputusan). Perspektif
yang dikemukakan oleh Van Lohuizen tersebut dinamakan knowledge states perspective.
Pada dasarnya karakterisik knowledge berbeda dengan aset organisasi lainnya. Selama
ini, knowledge diasumsikan sama dengan kekayaan organisasi berupa intellectual property,
seperti patent, copyrights, maupun trademarks, namun Teece (2000) dalam Spender (2003)
mengungkapkan bahwa walaupun masih termasuk ranah yang komplek, intellectual property
masih dapat secara konkret terlihat dan tertangkap oleh hukum maupun akuntansi tradisional
(seperti hukum yang mengatur tentang larangan pembajakan, dan pengukuran, pengakuan, dan
pelaporan akuntansi tradisional atas aset takberwujud). Berbeda dengan knowledge assets, aset
ini lebih sulit untuk diukur dan tidak konkret, namun demikian, aset ini secara aktif digunakan
sebagai alat stratejik untuk keunggulan bersaing. Spender (2003) dengan perpektif mikro
ekonominya menyatakan bahwa terdapat 2 karakteristik dasar yang membedakan knowledge
assets dengan aset organisasi lainnya, yaitu pertama, karakteristik umum knowledge. Berbeda
dengan aset organisasi yang berwujud (tangible), knowledge tidak berkurang ketika dikonsumsi
dan sulit untuk menghitung tingkat kembalian (return) atas investasi pembentukan knowledge.
Di sisi lain, knowledge justru akan hilang apabila tidak dikonsumsi karena akan menjadi usang
dan knowledge baru akan menggantikannya karena mempunyai kekuatan untuk menjelaskan
sesuatu dengan lebih baik. Karakteristik kedua adalah kemudahan knowledge untuk dibagikan
dan dikopi bagi pihak-pihak yang ingin memahaminya, sangat berbeda dengan aset berwujud
yang sudah diketahui oleh banyak pihak namun hanya dimiliki oleh satu pihak saja.
The 2nd National Conference UKWMS
A s p e k A k u n t a n s i K n o w l e d g e
(a) Pengukuran dan penilaian knowledge
Karakteristik knowledge dan peran pentingnya dalam strategi organisasi telah menjadi isu
menarik untuk dibahas, tidak hanya pada literatur manajemen yang menitikberatkan pada
pengelolaan knowledge organisasi, namun juga bidang akuntansi yang berfokus pada
pengukuran, pengakuan dan pelaporannya. Akuntansi tradisional sebenarnya sudah sejak lama
mendapat kritik tajam atas ketidakmampuannya menjelaskan fenomena yang terjadi saat ini
karena asumsi yang digunakan adalah nilai historis yang dianggap tidak relevan lagi.
Standar akuntansi keuangan saat ini membedakan dengan tajam antara aset berwujud dan
takberwujud. Aset berwujud/aset fisik, seperti mesin dan peralatan dinilai di neraca sebesar kas
yang dibayarkan untuk memperolehnya, sedangkan aset takberwujud dibebankan pada saat
terjadinya. Sebagai konsekuensinya, investasi atas knowledge yang dibeli dari pihak lain, seperti
hardware dan software dibukukan sebagai aset yang kemudian dibebankan sebagai biaya dalam
laporan laba rugi selama umur ekonomisnya. Di sisi lain, kos untuk membangun inisiatif
knowledge management, seperti program sumber daya manusia, dibebankan pada saat terjadinya.
Kritik atas hal ini disampaikan oleh Blair dan Wallman (2001) dalam Stone dan Warsono (2003)
yaitu perlakuan akuntansi tradisional cenderung untuk undervaluing (menilai lebih rendah)
organisasi yang sebagian besar asetnya terdiri atas aset takberwujud. Namun dari pihak yang
mendukung akuntansi tradisional mengungkapkan bahwa informasi yang andal (reliable) juga
harus dipertahankan selain keberpautan (relevance)-nya untuk mempertahankan kualitas
informasi akuntansi.
Knowledge management yang sukses diimplementasikan akan meningkatkan kinerja
keuangan organisasi dengan meningkatkan penjualan, menurunkan biaya, ataupun keduanya.
The 2nd National Conference UKWMS
Masalah yang terjadi adalah jeda waktu antara penciptaan knowledge/investasi pada knowledge
management dengan keuntungan keuangannya sangat lama. Hal ini mengakibatkan dalam jangka
pendek, keuntungan dari investasi knowledge terlihat rendah dalam laporan keuangan
dibandingkan dengan investasi pada aset fisik (meningkatkan nilai aset dan sedikit mengurangi
keuntungan dalam bentuk biaya penyusutan). Permasalahan tersebut menjadi menarik untuk
didiskusikan seiring dengan semakin maraknya perkembangan virtual organization dan
organisasi jasa yang sebagian besarnya asetnya terdiri atas knowledge.
Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) 2 menyatakan bahwa karakteristik
informasi akuntansi yang berkualitas harus memenuhi keberpautan dan keterandalan (FASB,
1991). Keberpautan informasi ditentukan oleh ketepatan waktu, mempunyai nilai balikan dan
nilai prediksi, sedangkan keterandalan dapat dihasilkan dengan menyajikan informasi yang tidak
bias, lengkap dan dapat diverifikasi. Namun demikian terdapat trade-off di antara keduanya,
yaitu jika terlalu mempertahankan keberpautan maka informasi akuntansi menjadi kurang
terandalkan, sebaliknya jika terlalu mempertahankan keterandalan, maka informasi akuntansi
menjadi kurang berpaut. Hal ini kemudian menjadi dasar munculnya knowledge accounting yang
secara jelas mengkritik akuntansi keuangan dan manajemen yang lebih mengutamakan
keterandalan informasi dibandingkan keberpautannya untuk keperluan pengambilan keputusan.
Kegagalan akuntansi tradisional dalam mempertahankan keberpautannya mulai terlihat di
akhir tahun 1997, yaitu pada saat rasio market to book value perusahaan yang sarat akan aset
knowledge, seperti perusahaan software dan bioteknologi, di atas 5 (Skyrme, 2008). Hal ini
menunjukkan bahwa investor menilai lebih perusahaan tersebut di atas nilai yang tercatat di
laporan keuangan. Lebih lanjut, Skyrme (2008) menjelaskan besarnya rasio ini terutama
The 2nd National Conference UKWMS
disebabkan karena perusahaan tidak mencatat aset knowledge (brand, reputasi, know how
karyawan) di dalam laporan keuangan, padahal aset ini sebenarnya mempunyai nilai riil.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang aset knowledge, berikut beberapa tinjauan
standar tentang pendefinisian aset. Financial Accounting Standard Board (FASB)
mendefinisikan aset sebagai berikut (SFAC No.6): “Assets are probable future economic benefits
obtained or controlled by a particular entity as a result of past transactions or events.” Dengan
makna yang sama, International Accounting Standard Commission (IASC) mendefinisikan aset
sebagai “resource controlled by the enterprise as a result of past events and from which future
economic benefits are expected to flow to the enterprise.” (IAI, 2007). Dari kedua definisi di
atas terlihat perbedaan dalam memaknai aset, IASC memaknai manfaat ekonomik masa datang
bukan sebagai potensi jasa yang saat ini dikuasai badan usaha, tetapi sebagai manfaat yang
diharapkan mengalir ke badan usaha, sehingga dapat diinterpresikan aliran masuk manfaat
diakibatkan pertukaran dengan sumber ekonomik yang sebelumnya dikuasai oleh badan usaha
atau aliran masuk pendapatan. Definisi inilah yang dipakai sebagai standar pengakuan aset dalam
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Oleh karena itu, maka aset memiliki
karakteristik manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti, dikuasai/dikendalikan oleh
entitas, dan timbul akibat transaksi masa lalu (Suwardjono, 2005). Selain itu, dalam rerangka
konseptual akuntansi, elemen dapat diakui dalam suatu laporan keuangan apabila memenuhi
syarat definisi, keterandalan (reliability), keberpautan (relevancy) dan keterukuran
(measurability).
Jika ditinjau dari definisi aset maka terdapat tiga isu penting dalam pengakuan knowledge
sebagai aset, yaitu tentang kepemilikan/penguasaan, pengukuran cukup pasti dan aset yang
berasal dari pembelian dibandingkan yang dihasilkan secara internal. Tacit knowledge saat ini
The 2nd National Conference UKWMS
masih menjadi perdebatan, dikarenakan jenis knowledge ini melekat pada individu sumber daya
manusia yang bekerja di suatu organisasi. Perdebatan yang terjadi adalah apakah sebenarnya
knowledge yang melekat pada sumber daya manusia dapat dimiliki (owned by) atau dikontrol
(controlled by) oleh organisasi. Hal ini tentu saja berbeda dengan explicit knowledge yang
mungkin telah dikodifikasi dalam suatu artefak atau organization memory, yang tentu saja
organisasi dapat memiliki maupun menguasainya baik dengan cara pembelian, pemberian,
penemuan, maupun pertukaran. Sebenarnya sejak tahun 1980-an sudah bermunculan modelmodel
untuk menghitung nilai sumber daya manusia pada suatu organisasi, namun sampai saat
ini, sumber daya manusia dan tacit knowledge yang melekat tidak dikategorikan sebagai aset
maupun komponen neraca. Dari beberapa literatur terungkap bahwa yang menjadi alasan tidak
masuknya suatu pos ke dalam kategori aset selain penguasaan adalah pengukuran yang tidak
cukup pasti/keterandalan.
Pengukuran (measurement) yang dimaksud adalah penentuan jumlah rupiah yang harus
dilekatkan pada suatu objek pada saat terjadinya. Ini berbeda dengan penilaian (valuation), jika
pengukuran merupakan pelekatan nilai pada objek pada saat perolehan, maka penilaian adalah
pelekatan nilai pada objek pada saat penyajian. Secara akuntansi, objek harus dapat
direpresentasikan dalam jumlah rupiah sehingga hubungan antar objek dapat bermakna sebagai
informasi. Selain itu, harga yang dapat digunakan sebagai dasar pengukuran objek adalah harga
sepakatan (cost) dalam transaksi antar pihak independen karena nilai ini dianggap obyektif dan
terandalkan. Hal yang sama juga diungkap dalam PSAK no. 19 paragraf 20 (IAI, 2007)
(dimaksudkan agar pembahasan mengarah kepada pengelompokan knowledge sebagai aset
takberwujud), aset takberwujud diakui jika dan hanya jika (a) kemungkinan besar perusahaan
akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan aset tersebut, (b) biaya perolehan aset tersebut
The 2nd National Conference UKWMS
dapat diukur secara andal. Apabila dikaitkan dengan knowledge, maka knowledge hanya dapat
diakui sebagai aset apabila diperoleh dengan cara membeli (purchase) bukan dihasilkan secara
internal organisasi karena harga perolehan pada saat pembelian-lah yang dinilai andal, mengapa?
Karena pembelian merupakan transaksi yang melibatkan dua pihak yang independen, sehingga
secara akuntansi dianggap andal.
Bagaimana halnya dengan knowledge yang dibuat (create) secara internal oleh suatu
organisasi? Dalam PSAK no.19 paragraf 33 (IAI, 2007) mengungkapkan bahwa terdapat
kesulitan dalam menentukan apakah suatu aset takberwujud (dalam hal ini knowledge) yang
dihasilkan dalam perusahaan memenuhi kriteria untuk diakui. Kesulitan tersebut terletak pada:
(a) menentukan saat timbulnya aset yang dapat diidentifikasi yang akan menghasilkan manfaat
ekonomis masa datang, (b) menentukan biaya perolehan (kos) secara andal. Oleh sebab itu
PSAK menyarankan perusahaan untuk menggolongkan proses dihasilkannya aset takberwujud
ke dalam dua tahapan, yaitu tahap riset dan pengembangan. Perusahaan tidak boleh mengakui
aset takberwujud yang timbul dari riset, seluruh pengeluaran harus diakui sebagai biaya
(expense) pada saat terjadinya. Salah satu kegiatan riset adalah kegiatan yang ditujukan untuk
memperoleh pengetahuan baru. Berbeda dengan riset, pada tahap pengembangan, pengakuan
aset berdasarkan pada 6 poin kriteria yang salah satu poinnya adalah kemampuan perusahaan
untuk mengukur secara andal pengeluaran yang terkait dengan aset takberwujud selama masa
pengembangannya. Berdasarkan PSAK tersebut maka kegiatan/inisiatif knowledge management
yang pertama kali yaitu knowledge creation tidak dapat diakui secara akuntansi sebagai aset
takberwujud, ditambah dengan ketidakmampuan perusahaan untuk melakukan pengukuran
secara andal knowledge yang dikembangkan.
The 2nd National Conference UKWMS
Namun di sisi lain, informasi akuntansi yang berkualitas tidak semata-mata ditentukan
oleh definisi, keterukuran, dan keterandalan saja, keberpautan informasi juga merupakan kriteria
yang penting yang harus dipertimbangkan dalam menyajikan laporan keuangan. Jika inisiatifinisiatif
dalam knowledge management tidak diukur, dinilai, dan disajikan dalam laporan
keuangan, maka dapat terjadi organisasi bisnis dinilai lebih rendah secara akuntansi tetapi lebih
tinggi di pasar. Lev dalam Weber (2008) seorang profesor akuntansi dan keuangan dari Amerika
Serikat menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat yang tergabung
dalam Standard & Poor 500 mempunyai rata-rata nilai market to book ratio lebih besar dari 6, ini
berarti bahwa angka-angka dalam neraca yang merepresentasikan akuntansi tradisional, hanya
mewakili 10%-15% nilai perusahaan yang sesungguhnya, atau dengan kata lain, pasar menilai
lebih tinggi suatu perusahaan dibandingkan dengan nilai akuntansi. Lev beralasan nilai market to
book value yang tinggi dipicu oleh penggunaan aset takberwujud yang semakin banyak, yang
mencapai 67% dibandingkan aset berwujud dan nilai aset takberwujud yang tidak dapat diukur
dengan andal tidak disajikan dalam laporan keuangan. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan
kesalahan dalam pengambilan keputusan stakeholder karena lebih dari 50% data yang digunakan
dalam mengambil keputusan adalah data akuntansi. Riset yang telah dilakukan Lev dalam Weber
(2008) di hampir 1500 perusahaan di Amerika Serikat yang mempunyai investasi pada riset dan
pengembangan (research and development/R&D) yang signifikan, 25% adalah perusahaan yang
telah dinilai rendah oleh investor. Bahkan banyak diantaranya adalah perusahaan software,
biotech dan komputer yang mempunyai nilai R&D yang signifikan namun laba di bawah ratarata
industri. Hal ini berarti cost of capital perusahaan jenis ini sangat besar sehingga mungkin
saja dapat menganggu pertumbuhan perusahaan, padahal nilai investasi R&D yang besar
The 2nd National Conference UKWMS
merupakan modal bagi perusahaan untuk mengembangkan inovasi produk yang tentu saja dapat
meningkatkan pendapatan perusahaan di masa yang akan datang.
(b) Alternatif solusi atas pengukuran dan penilaian knowledge
Beberapa alternatif solusi ditawarkan oleh pakar maupun lembaga konsultan, walaupun
mungkin tidak sepenuhnya dapat menjawab permasalahan pengukuran dan penilaian knowledge,
namun alternatif solusi tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki sistem akuntansi
tradisional. Sebelum membahas lebih lanjut beberapa alternatif solusi, perlu diingat bahwa
laporan keuangan yang saat ini dipakai adalah berdasarkan nilai realisasi, bukan nilai penciptaan
(value creation), sehingga pembahasan atas pengukuran knowledge ini mungkin saja menjadi
tidak berpaut dalam sistem akuntansi tradisional. Berikut adalah alternatif solusi atas pengukuran
dan penilaian knowledge:
Kaplan’s Balanced Scorecard
Kaplan telah memperkenalkan sebuah metode pengukuran berdasarkan pada penciptaan
nilai di setiap aktivitas organisasi yang berpedoman pada strategi perusahaan. Tentu saja metode
ini dapat digunakan untuk mengukur penciptaan nilai knowledge asset, karena selain kinerja
keuangan, metode balanced scorecard juga mengukur pelanggan, proses internal, pembelajaran,
dan pertumbuhan (Mulyadi, 2001)
Pada dasarnya dengan menggunakan metoda ini maka akan tercipta sebuah bentuk
laporan tambahan (supplemental reporting) atas laporan keuangan yang sekarang ini sudah ada.
Oleh karena itu sifat dari pelaporan metoda balanced scorecard adalah menyediakan informasi
tentang aset takberwujud (termasuk knowledge asset) yang tidak dilaporkan secara detail pada
laporan keuangan organisasi. Tetapi perlu diperhatikan, bahwa laporan dengan metoda ini sangat
unik untuk tiap individu organisasi dikarenakan metoda pengukuran balanced scorecard
The 2nd National Conference UKWMS
berpedoman pada strategi organisasi, sehingga laporan ini tidak dapat dibandingkan dengan
organisasi lain yang mempunyai strategi berbeda (Stone dan Warsono, 2003).
Skandia Navigator
Teknik ini telah dipakai oleh Skandia, perusahaan asuransi yang berlokasi di Swedia,
sejak tahun 1994. Selain Skandia, beberapa perusahaan jasa di Swedia juga menggunakan teknik
ini. Skandia Navigator merupakan model perencanaan bisnis dengan mengidentifikasi area bisnis
kritis dan membangun pengukuran yang relevan atas area bisnis tersebut. Menurut navigator ini
terdapat 5 fokus area yaitu: keuangan (financial), pelanggan (customer), manusia (human),
proses (process), dan pembaharuan dan pengembangan (renewal and development). Dari
masing-masing fokus area ini akan ditentukan indikator beserta pengukurannya. Laporan
Skandia dengan menggunakan navigator ini ditujukan baik untuk internal maupun eksternal
perusahaan. Sebagai contoh adalah navigator yang digunakan oleh SkandiaLink, perusahaan jasa
asuransi ini menitikberatkan pada kepuasaan pelanggan dengan indikator yang digunakan antara
lain: indeks kepuasan pelanggan, jumlah penjualan produk baru, dan waktu respon pada call
center.
The 2nd National Conference UKWMS
Gambar 1
Skandia Navigator
Sumber: Bredahl-Ryden (2002)
Intangible Assets Monitor Model
Metoda ini dikenalkan oleh Karl Sveiby dan digunakan dalam laporan sebuah grup
perusahaan jasa di Swedia pada tahun 1988 sebagai laporan tambahan (supplemen) atas laporan
keuangannya (Whestpal, 2008). Metoda ini menggunakan papan nilai (scoreboard) dengan multi
indikator yang terbagi menjadi 3 kategori berbeda yaitu: struktur eksternal, struktur internal, dan
kompetensi individu. Indikator-indikator digunakan untuk mengukur pertumbuhan,
pembaharuan, efisiensi, dan stabilitas/resiko di setiap kategori.
Lev’s Knowledge Earnings
Baruch Lev adalah seorang profesor akuntansi dan keuangan di
Leonard N. Stern School of Business, ia menciptakan sebuah metoda pengukuran kapital
knowledge sebagai berikut:
The 2nd National Conference UKWMS
Knowledge Capital = (Normalized earnings - earnings from tangible and financial
assets)/(Knowledge capital discount rate)
Metoda ini menggunakan pendekatan laba (earnings) historis dan prediksi laba yang akan datang
(Weber, 2008). Rata-rata 3 tahun laba historis dan 3 tahun laba prediksian dari para analis
disebut Lev sebagai normalized earnings yang kemudian harus dikurangi dengan tingkat
kembalian yang diharapkan (expected rate of return) aset yang dapat ditukarkan yaitu aset
berwujud/fisik dan aset moneter yang tercantum dalam neraca. Kontribusi/laba dari kapital
knowledge dapat diperoleh apabila nilai normalized eanings lebih tinggi dibandingkan tingkat
kembalian yang diharapkan dari aset fisik dan moneter. Hasil ini kemudian disesuaikan dengan
nilai sekarang dari diskonto kapital knowledge. Lebih lanjut Lev (2008) menyatakan bahwa
metoda yang dia ciptakan ini bukan bertujuan untuk mengganti akuntansi tradisional, melainkan
untuk memperbaikinya karena akuntansi tradisional tetap dianggap masih efisien.
Strassman’s Knowledge Valuation
Strassman, seorang praktisi sekaligus akademisi di bidang teknologi dan informasi
membuat sebuah pengukuran atas aset knowledge yang disebut dengan knowledge capital
valuation dengan menggunakan pendekatan economics profit. Metoda yang digunakan adalah
sebagai berikut:
Knowledge Capital = (Profits - Financial Capital "Rental")/(interest rate cost of long term
debt)
Strassman (1999) berpendapat bahwa kapital knowledge dapat dihitung karena kapital ini
mempunyai kontribusi penting dalam menghasilkan laba bagi organisasi. Kapital ini harus
dibedakan dengan kapital moneter (financial capital) karena pada dasarnya kapital moneter tidak
dapat menciptakan kemakmuran bagi organisasi, melainkan efektivitas penggunakan kapital
The 2nd National Conference UKWMS
knowledge-lah yang berkontribusi pada kemakmuran organisasi. Oleh karena itu Strassman
(1999) lebih lanjut menyatakan bahwa unsur laba yang berasal dari kapital moneter harus
dikeluarkan terlebih dahulu dan untuk memberikan bobot pada nilai tambah kapital knowledge
ini maka harus dibagi dengan tingkat bunga pinjaman jangka panjang, karena tingkat bunga ini
merupakan refleksi dari cost of capital yang ditawarkan oleh pasar.
(c) Prospek Knowledge Accounting
Keunikan karakteristik knowledge menyebabkan berbagai macam solusi untuk mengukur
maupun melaporkan knowledge mempunyai banyak kelemahan. Namun dari berbagai metoda
pengukuran maupun bentuk pelaporan, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar metoda tersebut
tidak bertujuan untuk mengganti sistem akuntansi tradisional yang selama 500 tahun telah
dipakai. Metoda akuntansi tradisional dianggap masih cukup efisien digunakan oleh stakeholder.
Namun demikian, kecukupan informasi masih harus ditambahkan agar laporan keuangan
tradisional lebih berpaut apabila digunakan untuk pengambilan keputusan.
Permasalahan utama sehingga muncul berbagai pengukuran atas intangible assets
khususnya knowledge adalah ketidakmampuan laporan akuntansi tradisional memberikan
informasi yang berpaut dalam pengambilan keputusan. Hal ini menjadi pemicu munculnya
knowledge accounting yaitu akuntansi untuk pengetahuan/knowledge. Namun knowledge
accounting juga memiliki kelemahan dalam hal pengukuran, yaitu keterandalan pengukuran
knowledge dengan semua inisiatifnya. Dengan demkian solusi untuk knowledge accounting ini
tidak pernah dapat sempurna. Selain itu juga banyak kekuatan-kekuatan yang dapat menghalangi
munculnya knowledge accounting, yaitu antara lain kekuatan institusi, sosial, maupun politik.
Sebagaimana diungkapkan oleh Baruch Lev dalam artikel Weber (2008) kendala dalam
penerapan pengukuran maupun pelaporan knowledge adalah berasal dari manajemen, akuntan,
The 2nd National Conference UKWMS
analis keuangan, maupun investor institusional. Manajemen mencintai sistem yang saat ini sudah
berjalan, mereka tidak akan mau meletakkan suatu informasi dalam laporan keuangan apabila hal
tersebut tidak menguntungkan bagi mereka. Demikian halnya dengan akuntan, mereka juga
sangat menikmati sistem yang saat ini berjalan karena jika mereka tidak menilai kapital
knowledge maka kewajiban hukum atas diri mereka menjadi berkurang. Analis keuangan dan
investor institusional menikmati keberadaan sistem saat ini karena merasa mereka mempunyai
informasi privat berkaitan dengan perusahaan, sehingga mereka tidak akan bersedia apabila
informasi ini harus dibagi dengan publik. Oleh sebab itu, dibutuhkan pihak-pihak yang
mempunyai kemampuan dan kemauan dalam memperbaiki sistem akuntansi yang saat ini
berjalan, serta merekonsiliasi konflik kepentingan yang terjadi.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki sistem akuntansi saat ini adalah
dengan menambahkan informasi pengukuran kapital knowledge yang dimiliki perusahaan
sebagai laporan tambahan (supplement) atas laporan keuangan. Saran ini tentu saja ditujukan
khususnya untuk perusahaan yang mempunyai nilai knowledge maupun intangible assets lain
yang cukup besar yang mungkin saja tidak tercantum dalam laporan keuangan karena masalah
keterandalan pengukurannya. Melalui laporan tambahan ini diharapkan siapapun yang
membutuhkan informasi perusahaan dapat menggunakan data dalam laporan ini untuk
pengambilan keputusan yang lebih baik.
Pada akhir tahun 2001, sebuah tim task force yang terdiri atas para akademisi,
profesional, komunitas bisnis, dan badan pembuat standar di Amerika Serikat
merekomendasikan 2 hal penting yang berkaitan dengan kecukupan informasi bagi investor
seiring dengan perubahan lingkungan ekonomi (Daum, 2001):
The 2nd National Conference UKWMS
(1) membuat suatu rerangka baru untuk laporan tambahan (supplement reporting) aset
takberwujud (intangible assets). Perlu adanya suatu rerangka untuk melaporkan aset takberwujud
dan pengukuran operasional perusahaan agar investor mampu menilai prospek perusahaan di
masa yang akan datang.
(2) menciptakan suatu kondisi agar perusahaan mau berinovasi dalam pengungkapan atas
laporan keuangan (disclousure). Diharapkan peran aktif dari pemerintah untuk mendorong
perusahaan berinovasi dalam mempuat pengungkapan atas laporan keuangan dan membuat
regulasi untuk melindungi perusahaan atas usahanya tersebut. Perusahaan sebaiknya diijinkan
untuk membuat informasi yang mungkin bersifat spekulatif, dengan catatan perusahaan
memberikan peringatan kepada investor dan secara eksplisit menjelaskan bagaimana informasi
tersebut diperoleh.
Dua rekomendasi tersebut dapat dijadikan referensi dalam memperbaiki sistem akuntansi saat ini
akibat dari dinamisme lingkungan ekonomi.
Secara teknis Daum (2001) mengajukan proposal untuk membuat format laporan laba
rugi dan neraca yang dapat memberikan informasi lebih atas prospek perusahaan di masa yang
akan datang. Laporan laba rugi yang saat ini digunakan berfokus pada kos atas produksi yang
sebagian besar berasal dari bahan
variabel (variable cost) menjadi lebih besar daripada kos tetap (fixed cost). Tentu saja hal ini
berbeda dengan perusahaan yang sarat akan aset takberwujud, perusahaan jenis ini mempunyai
kos tetap yang lebih besar, sehingga apabila investor masih menggunakan akuntansi tradisional
dalam menilai perusahaan jenis ini dikhawatirkan mereka akan mengalami distorsi informasi.
Bentuk laporan laba rugi yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan informasi
perusahaan sarat aktiva takberwujud adalah laporan laba rugi berbasis kas seperti berikut:
The 2nd National Conference UKWMS
Pendapatan
dikurangi kos pelayanan pelanggan
dikurangi kos untuk menghasilkan produk/jasa
dikurangi kos untuk mengembangkan produk/jasa
dikurangi kos administrasi
Pendapatan sebelum pajak dan bunga
dikurangi pajak
dikurangi /ditambah penyesuaian nonkas
Laba kas
Laporan laba rugi seperti ini mengganti laba yang dapat dimanipulasi dengan bentuk kas yang
dapat dengan mudah diverifikasi (misalnya dengan melihat laporan kas dan bank). Laporan ini
juga menitikberatkan pada operasional perusahaan modern, seperti berfokus pada pelanggan (kos
pelayanan, penjualan dan pemasaran, dan pengangkutan), menghasilkan produk untuk dijual (kos
manufaktur/penyediaan jasa, bahan
(kos penelitian dan pengembangan/research and development, pembentukan knowledge), serta
proxy efisiensi yaitu kos administrasi.
Selain laporan laba rugi, neraca juga mengalami perubahan fokus. Saat ini neraca
merupakan gambaran atas aset perusahaan dan dana yang dibutuhkan untuk membiayai aset
tersebut. Bagi perusahaan yang kegiatan operasionalnya mengalami outsourcing, maka modal
kerja (working capital)nya bisa menjadi negatif, oleh karena itu, maka terjadi pergeseran fokus
neraca untuk perusahaan-perusahaan tersebut, yaitu fokus pada investasi dan pendanaan. Jadi,
neraca untuk perusahaan modern seperti ini bukan menitikberatkan pada aset, kewajiban, dan
ekuitas, melainkan pada investasi dan pendanaan. Pada sisi investasi selain modal kerja, dapat
The 2nd National Conference UKWMS
dicantumkan aset tetap, dan aset takberwujud (seperti tenaga kerja berpengetahuan/knowledge
worker, hubungan dengan pelanggan, dan hubungan dengan relasi bisnis yang pengukurannya
dapat menggunakan proxy yang sesuai sebagaimana dibahas sebelumnya). Neraca ini
memberikan informasi kepada pembacanya mengenai investasi masa depan perusahaan.
Laporan aliran kas juga sebaiknya dimodifikasi untuk mendapatkan informasi yang lebih
berpaut, yaitu dengan berfokus pada aliran kas bebas (free cash flow) yang merupakan selisih
dari laba kas (yang diperoleh dari laporan laba rugi) dengan aktivitas investasi (modal kerja, aset
tetap, dan aset takberwujud). Dengan melakukan modifikasi atas laporan keuangan, diharapkan
dapat memberikan informasi lebih kepada pengguna seiring dengan perkembangan perusahaan
dan lingkungan ekonomi di sekitarnya.
(d) Bagaimana di Indonesia?
yang berhasil dalam pengelolaan knowledge (knowledge management), yaitu MAKE (Most
Admired Knowledge Entreprise) Awards sejak 2005, dengan mengumpulkan data dari hasil riset
Dunamis Organization Services. Pada tahun tersebut
peraih MAKE Awards ke ajang ASIAN MAKE. Sampai sekarang, ajang ini secara periodik terus
dilaksanakan dengan jumlah peserta dari waktu ke waktu selalu mengalami peningkatan. Hal ini
tentu saja membuktikan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah banyak yang memiliki
kapital knowledge dan memerlukan perhatian dan pengelolaan. Salah satu cara pengelolaan yaitu
dengan cara mengukur, menilai, dan melaporkan dalam laporan tahunan dengan harapan pihakpihak
yang berkepentingan terhadap perusahaan dapat mengetahui kekayaan perusahaan berupa
kapital knowledge ini dan bersama-sama perusahaan mengembangkan inisiatif-inisiatif
knowledge yang bertujuan untuk meningkatkan nilai (value) perusahaan.
The 2nd National Conference UKWMS
Dilihat dari laporan keuangan perusahaan, beberapa pemenang MAKE Awards 2007
memiliki nilai market to book di atas 1, seperti terlihat di bawah ini:
Tabel 1
Market to Book Value Pemenang MAKE Awards 2007
Nama perusahaan Market to Book Value 2006 Market to Book Value 2007
Excelcomindo Pratama 0,018 0,020
Unilever
United Tractors 4,065 5,421
Astra Internasional 2,841 4,099
Sumber: www.idx.co.id, laporan keuangan XL, Unilever, United Tractors, Astra (2008)
Dari data tersebut terlihat bahwa di
memberikan nilai lebih kepada perusahaan-perusahaan modern yang mengelola knowledge
dengan baik, yaitu dari sampel 4 pemenang, 3 diantaranya mempunyai market to book value
lebih dari 1 dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun berikutnya. Hal ini
seharusnya menjadi sinyal bahwa nilai yang tercantum dalam laporan keuangan kurang berpaut
dengan kondisi lingkungan ekonomi perusahaan. Pihak-pihak terkait seperti komunitas bisnis,
akademisi, profesional, maupun badan standar hendaknya mulai memikirkan perkembangan ini
dan diharapkan dapat memberikan rekomendasi berkaitan dengan hal tersebut.
Secara umum, perusahaan-perusahaan go public di Indonesia telah mengungkapkan
beberapa informasi yang tidak dapat dicantumkan dalam laporan keuangan karena keterandalan
pengukurannya. Walaupun sifat pengungkapan laporan keuangan (disclosure) yang paling
banyak dilakukan oleh perusahaan
persaingan usaha dan keinginan untuk mendapatkan peyandang dana, maka sifat pengungkapan
mulai bergeser ke arah sukarela (voluntary). Pergeseran ini hendaknya diikuti dengan respon
The 2nd National Conference UKWMS
positif dari profesional, badan standar maupun pemerintah dengan menerbitkan standar maupun
regulasi yang mendorong perusahaan untuk mengungkapkan informasi lebih transparan kepada
pihak-pihak berkepentingan.
Khusus bagi perusahaan-perusahaan yang sarat aset takberwujud, seperti industri
teknologi, telekomunikasi, bioteknologi, dan farmasi di
laporan standar yang diwajibkan oleh pemerintah dan badan standar, namun laporan tambahan
atas aset takberwujud yang dimiliki perusahaan masih sangat minim, bahkan sebagian besar
perusahaan hanya melaporkannya dalam laporan tahunan berupa informasi kualitatif tanpa
melakukan perhitungan kuantitatif dan interpretasi.
Pada akhirnya, semua tinjauan ini tentu saja kembali kepada rerangka konseptual kualitas
informasi akuntansi, yaitu nilai manfaat harus lebih besar dari kos untuk menyajikannya. Apabila
dirasa manfaat yang akan dihasilkan dari laporan tambahan atas kapital knowledge lebih besar
dari kos yang dikeluarkan maka perusahaan dapat menyajikannya baik secara kualitatif maupun
kuantitatif. Manfaat dan kos sebaiknya tidak hanya yang bersifat moneter saja, tetapi non
moneter juga harus dipertimbangkan.
SIMPULAN
Lingkungan bisnis terus mengalami perkembangan, terutama dengan banyaknya
perusahaan-perusahaan yang sarat akan aset takberwujud, khususnya knowledge. Perkembangan
ini menyebabkan informasi yang tercantum dalam laporan keuangan menjadi tidak berpaut
karena inisiatif-inisiatif pengelolaan dan penciptaan knowledge merupakan aset yang secara
andal tidak dapat diukur dan dicantumkan dalam laporan keuangan. Kelemahan akuntansi
tradisional dikhawatirkan akan mendistorsi informasi yang diterima oleh pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap perusahaan. Kelemahan ini dapat diatasi dengan memperbaiki sisem
The 2nd National Conference UKWMS
akuntansi tradisional dan tidak mengganti sistem akuntansi yang ada saat ini karena dianggap
banyak pihak masih efisien.
Berbagai metoda pengukuran dan penilaian atas knowledge dapat digunakan sebagai
tambahan informasi pada laporan keuangan dengan harapan penyandang dana, dan siapapun
yang berkepentingan terhadap perusahaan dapat menilai perusahaan lebih obyektif dan
menentukan prospek perusahaan di masa yang akan datang dengan lebih baik.
Knowledge accounting atau akuntansi pengetahuan merupakan isu menarik yang
seharusnya mendapat perhatian dari investor, pemerintah, profesional, maupun komunitas bisnis.
Bagaimana membuat regulasi dan standar yang mampu mengadopsi knowledge accounting dan
merekonsiliasi konflik kepentingan yang terjadi atas isu ini.
Fenomena distorsi informasi akibat keusangan sistem akuntansi sudah terlihat di
perusahaan modern
kepada publik sekedar memenuhi tanggung jawab yang bersifat wajib saja. Perlu ada dorongan
dari pemerintah, badan standar, akademis, maupun profesional agar perusahaan-perusahaan di
standar ke dalam laporan tambahan. Tentu saja untuk melakukan hal tersebut harus diingat
bahwa nilai manfaat penyajiannya harus melebihi kosnya.
REFERENSI
Bredahl dan Ryden. “The Skandia Navigator.” www.controller-forum.com2002/vortr/ Bredahl-
Ryden.pdf. diunduh tanggal 20 Juni 2008.
Daum, Juergen. 2001. ”How Accounting gets More Radical Measuring What Really Matters to
Investor”. New Ecomony Analyst Report
Financial Accounting Standards Board (FASB). 1991.”Statement of Financial Accounting
Concepts. Irwin.
The 2nd National Conference UKWMS
Holsapple,
Management I.. Springer. Jerman
Holsapple, Clyde W, dan K.D Joshi. 2003. “ A Knowledge Management Ontology,” Handbook
on Knowledge Management I, Springer. Jerman
Ikatan Akuntan
Mulyadi. 2001. “Balance Scorecard: Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatganda Kinerja
Keuangan Perusahaan..” Salemba Empat.
Skyrme, David. “Valuing Knowledge: Is It Worth It?” http://www.skyrme.com/pubs/im0398.
htmdiunduh tanggal 12 Mei 2008.
Spender, JC. 2003. ”Knowledge Field: Some Post 9/11 Thoughts About Knowledge-Based
Theory of The Firm. Handbook on Knowledge Management I, Springer. Jerman
Stone, Dan N, dan Sony Warsono. 2003. ”Does Accounting Account for Knowledge?”
Handbook on Knowledge Management 1. Springer. Jerman
Strassman, Paul A. “Calculating Knowledge Capital.” http://www.strassman.com/pubs/calckm.
html diunduh tanggal 30 April 2008.
Suwardjono. 2005. ”Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan.” Edisi ketiga. BPFE
Weber, Alan M. “New Math for A New Economy.” http://www.fastcompany.com/
magazine/31/lev.html diunduh tanggal 10 Juni 2008.
Whestpal, Jeff. “Known Knowledge Capital Valuation Techniques.” www.
Actkm.org/userfiles/File/articles/kresponse-Measurements-12-5-00.htm diunduh tanggal 4
Juni 2008.
www.idx.com
The 2nd National Conference UKWMS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar