Jumat, 16 Oktober 2009

SEBUAH TINJAUAN AKUNTANSI ATAS PENGUKURAN DAN PELAPORAN KNOWLEDGE

SEBUAH TINJAUAN AKUNTANSI ATAS PENGUKURAN

DAN PELAPORAN KNOWLEDGE

Agnes Utari Widyaningdyah

Abstract

Recent advances shifted the economies into information age where people interact with

knowledge. In this new economy, knowledge management and intellectual capital are emerging as the

primary source of wealth. Some companies in Europe have already implemented various knowledge

measurement techniques and provide it in particular report called knowledge and intellectual capital

report. But, all techniques and reports have limitation and many suffer from a lack of practical testing.

They need to standardize in order to give a better perception for the participant of the organizations.

This paper looks at the nature of knowledge, discussion of proposed alternative methods of

knowledge accounting and the prospects and possibilities for knowledge accounting.

Keywords: knowledge, knowledge accounting, measuring, reporting

PENDAHULUAN

Revolusi dalam bidang ekonomi membawa dampak perubahan yang cukup radikal dalam

cara pengelolaan suatu bisnis dan penentuan strategi bersaing. Hal ini dipicu dengan munculnya

virtual company dan bisnis dot com, dimana informasi menjadi suatu hal yang vital bagi

kemajuan bisnis, yang kemudian disebut oleh Toffler sebagai era informasi (Information Age).

Para pelaku bisnis mulai menyadari bahwa kemampuan bersaing tidak hanya terletak pada

kepemilikan mesin-mesin industri, tetapi lebih pada inovasi, informasi, dan knowledge sumber

daya manusia yang dimilikinya, dengan kata lain, aktiva takberwujud (intagible assets)

mendapat perhatian yang lebih serius jika dibandingkan dengan aktiva berwujud (tangible

assets).

Istilah-istilah seperti knowledge management, intellectual capital, knowledge

organization, human capital banyak bermunculan seiring dengan perubahan atas nilai ekonomis

suatu organisasi. Istilah-istilah tersebut juga mewakili perubahan paradigma atas keunggulan

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

kompetitif organisasi yang sekarang ini menitikberatkan pada kemampuan individu dalam suatu

organisasi. Munculnya teknologi informasi juga ikut memicu pertumbuhan organisasi yang

berbasis knowledge, dimana knowledge menjadi senjata untuk memenangkan persaingan bisnis.

Organisasi semakin menyadari akan pentingnya knowledge asset sebagai salah satu

bentuk aset takberwujud. Standfield (1999) percaya akan dampak yang sangat nyata atas aset

takberwujud ini, bahkan dari hasil studinya dia mengambil kesimpulan bahwa eksekutif mulai

kehilangan kepercayaan atas data historis laporan keuangan dan mulai menggunakan informasi

tambahan untuk keperluan pengambilan keputusan strategis. Dengan kata lain, akuntansi

tradisional yang sudah 500 tahun digunakan sebagai dasar pembuatan laporan keuangan saat ini

gagal dalam mengadaptasi perubahan ekonomi yang cukup radikal (Edvinsson dan Malone, 1997

dalam Stone dan Warsono, 2003).

Kritik tajam atas keberadaan akuntansi tradisional sebenarnya berpangkal pada 2 hal: (1)

mesin produktivitas di era ekonomi baru adalah knowledge, bukan kapital fisik, (2) akuntansi

keuangan dan manajemen terjebak oleh model-model industri dimana kapital fisik sebagai

pemampunya (Upton dalam Stone dan Warsono, 2003). Namun demikian, bukanlah hal yang

mudah untuk mengganti praktik yang sudah ratusan tahun berlangsung, di lain pihak ada tuntutan

untuk mengubah asumsi-asumsi yang mendasari akuntansi tradisional.

Artikel ini akan membahas pro maupun kontra tentang keberadaan akuntansi tradisional

dalam mengukur, mengakui, dan melaporkan knowledge asset, diskusi tentang model-model

pengukuran knowledge asset dan prospek serta kemungkinan diterapkannya knowledge

accounting.

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

PEMBAHASAN

Knowledge dan Knowledge Asset

Pada dasarnya knowledge adalah sesuatu yang abstrak dan takberwujud (intangible).

Menurut Webster’s New Collegiate Dictionary, knowledge adalah “the range of one’s

information or understanding”. Informasi diartikan sebagai “knowledge obtained from

investigation, study, or instruction.” (Holsapple et al. 2003). Definisi knowledge secara leksikal

sulit untuk dipahami, karena tidak mampu mendeskripsikan knowledge secara jelas. Oleh karena

itu Holsapple et al. (2003) mengumpulkan beberapa perspektif knowledge dari beberapa ahli

untuk membantu memahami makna knowledge dengan lebih jelas.

Perspektif sistem yang dikemukakan oleh Newell, melihat knowledge sebagai “sesuatu”

yang diwujudkan dalam usable representation (tampilan yang bermanfaat) (Holsapple, 2003)

Menurut Newell ada dua ide yang mendasari perspektif ini, yaitu representation dan usability.

Representation (tampilan) adalah beberapa susunan dalam waktu atau ruang. Terdapat beberapa

bentuk tampilan, seperti kata-kata dalam suatu percakapan, diagram, foto, dan pola perilaku

seseorang. Jadi tampilan yang dimaksud ini dapat berupa objek maupun proses. Ide dasar

berikutnya adalah usability (kegunaan) yang berpandangan bahwa knowledge tidak akan terpisah

dengan pemroses-nya yang memiliki sebuah tampilan yang mencari bentuk kegunaannya.

Tingkat kegunaan mungkin dapat ditaksir dengan kecepatan, ketepatan, dan kepuasan pemroses

dalam hubungannya dengan tindakan yang dilakukan. Kegunaan suatu tampilan tertentu dari

suatu pemroses dipengaruhi oleh kesesuaian antara tampilan dengan pemroses, tindakan/tugas

yang diusahakan oleh pemroses, lingkungan dimana tindakan dilakukan.

Berbeda dengan Newell, Van Lohuizen (dalam Holsaple, 2003) berpandangan bahwa

knowledge dapat diuraikan menjadi beberapa bentuk, yaitu data, informasi, informasi yang

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

terstruktur, insight (wawasan), judgment (pertimbangan), dan decision (keputusan). Perspektif

yang dikemukakan oleh Van Lohuizen tersebut dinamakan knowledge states perspective.

Pada dasarnya karakterisik knowledge berbeda dengan aset organisasi lainnya. Selama

ini, knowledge diasumsikan sama dengan kekayaan organisasi berupa intellectual property,

seperti patent, copyrights, maupun trademarks, namun Teece (2000) dalam Spender (2003)

mengungkapkan bahwa walaupun masih termasuk ranah yang komplek, intellectual property

masih dapat secara konkret terlihat dan tertangkap oleh hukum maupun akuntansi tradisional

(seperti hukum yang mengatur tentang larangan pembajakan, dan pengukuran, pengakuan, dan

pelaporan akuntansi tradisional atas aset takberwujud). Berbeda dengan knowledge assets, aset

ini lebih sulit untuk diukur dan tidak konkret, namun demikian, aset ini secara aktif digunakan

sebagai alat stratejik untuk keunggulan bersaing. Spender (2003) dengan perpektif mikro

ekonominya menyatakan bahwa terdapat 2 karakteristik dasar yang membedakan knowledge

assets dengan aset organisasi lainnya, yaitu pertama, karakteristik umum knowledge. Berbeda

dengan aset organisasi yang berwujud (tangible), knowledge tidak berkurang ketika dikonsumsi

dan sulit untuk menghitung tingkat kembalian (return) atas investasi pembentukan knowledge.

Di sisi lain, knowledge justru akan hilang apabila tidak dikonsumsi karena akan menjadi usang

dan knowledge baru akan menggantikannya karena mempunyai kekuatan untuk menjelaskan

sesuatu dengan lebih baik. Karakteristik kedua adalah kemudahan knowledge untuk dibagikan

dan dikopi bagi pihak-pihak yang ingin memahaminya, sangat berbeda dengan aset berwujud

yang sudah diketahui oleh banyak pihak namun hanya dimiliki oleh satu pihak saja.

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

A s p e k A k u n t a n s i K n o w l e d g e

(a) Pengukuran dan penilaian knowledge

Karakteristik knowledge dan peran pentingnya dalam strategi organisasi telah menjadi isu

menarik untuk dibahas, tidak hanya pada literatur manajemen yang menitikberatkan pada

pengelolaan knowledge organisasi, namun juga bidang akuntansi yang berfokus pada

pengukuran, pengakuan dan pelaporannya. Akuntansi tradisional sebenarnya sudah sejak lama

mendapat kritik tajam atas ketidakmampuannya menjelaskan fenomena yang terjadi saat ini

karena asumsi yang digunakan adalah nilai historis yang dianggap tidak relevan lagi.

Standar akuntansi keuangan saat ini membedakan dengan tajam antara aset berwujud dan

takberwujud. Aset berwujud/aset fisik, seperti mesin dan peralatan dinilai di neraca sebesar kas

yang dibayarkan untuk memperolehnya, sedangkan aset takberwujud dibebankan pada saat

terjadinya. Sebagai konsekuensinya, investasi atas knowledge yang dibeli dari pihak lain, seperti

hardware dan software dibukukan sebagai aset yang kemudian dibebankan sebagai biaya dalam

laporan laba rugi selama umur ekonomisnya. Di sisi lain, kos untuk membangun inisiatif

knowledge management, seperti program sumber daya manusia, dibebankan pada saat terjadinya.

Kritik atas hal ini disampaikan oleh Blair dan Wallman (2001) dalam Stone dan Warsono (2003)

yaitu perlakuan akuntansi tradisional cenderung untuk undervaluing (menilai lebih rendah)

organisasi yang sebagian besar asetnya terdiri atas aset takberwujud. Namun dari pihak yang

mendukung akuntansi tradisional mengungkapkan bahwa informasi yang andal (reliable) juga

harus dipertahankan selain keberpautan (relevance)-nya untuk mempertahankan kualitas

informasi akuntansi.

Knowledge management yang sukses diimplementasikan akan meningkatkan kinerja

keuangan organisasi dengan meningkatkan penjualan, menurunkan biaya, ataupun keduanya.

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

Masalah yang terjadi adalah jeda waktu antara penciptaan knowledge/investasi pada knowledge

management dengan keuntungan keuangannya sangat lama. Hal ini mengakibatkan dalam jangka

pendek, keuntungan dari investasi knowledge terlihat rendah dalam laporan keuangan

dibandingkan dengan investasi pada aset fisik (meningkatkan nilai aset dan sedikit mengurangi

keuntungan dalam bentuk biaya penyusutan). Permasalahan tersebut menjadi menarik untuk

didiskusikan seiring dengan semakin maraknya perkembangan virtual organization dan

organisasi jasa yang sebagian besarnya asetnya terdiri atas knowledge.

Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) 2 menyatakan bahwa karakteristik

informasi akuntansi yang berkualitas harus memenuhi keberpautan dan keterandalan (FASB,

1991). Keberpautan informasi ditentukan oleh ketepatan waktu, mempunyai nilai balikan dan

nilai prediksi, sedangkan keterandalan dapat dihasilkan dengan menyajikan informasi yang tidak

bias, lengkap dan dapat diverifikasi. Namun demikian terdapat trade-off di antara keduanya,

yaitu jika terlalu mempertahankan keberpautan maka informasi akuntansi menjadi kurang

terandalkan, sebaliknya jika terlalu mempertahankan keterandalan, maka informasi akuntansi

menjadi kurang berpaut. Hal ini kemudian menjadi dasar munculnya knowledge accounting yang

secara jelas mengkritik akuntansi keuangan dan manajemen yang lebih mengutamakan

keterandalan informasi dibandingkan keberpautannya untuk keperluan pengambilan keputusan.

Kegagalan akuntansi tradisional dalam mempertahankan keberpautannya mulai terlihat di

akhir tahun 1997, yaitu pada saat rasio market to book value perusahaan yang sarat akan aset

knowledge, seperti perusahaan software dan bioteknologi, di atas 5 (Skyrme, 2008). Hal ini

menunjukkan bahwa investor menilai lebih perusahaan tersebut di atas nilai yang tercatat di

laporan keuangan. Lebih lanjut, Skyrme (2008) menjelaskan besarnya rasio ini terutama

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

disebabkan karena perusahaan tidak mencatat aset knowledge (brand, reputasi, know how

karyawan) di dalam laporan keuangan, padahal aset ini sebenarnya mempunyai nilai riil.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang aset knowledge, berikut beberapa tinjauan

standar tentang pendefinisian aset. Financial Accounting Standard Board (FASB)

mendefinisikan aset sebagai berikut (SFAC No.6): “Assets are probable future economic benefits

obtained or controlled by a particular entity as a result of past transactions or events.” Dengan

makna yang sama, International Accounting Standard Commission (IASC) mendefinisikan aset

sebagai “resource controlled by the enterprise as a result of past events and from which future

economic benefits are expected to flow to the enterprise.” (IAI, 2007). Dari kedua definisi di

atas terlihat perbedaan dalam memaknai aset, IASC memaknai manfaat ekonomik masa datang

bukan sebagai potensi jasa yang saat ini dikuasai badan usaha, tetapi sebagai manfaat yang

diharapkan mengalir ke badan usaha, sehingga dapat diinterpresikan aliran masuk manfaat

diakibatkan pertukaran dengan sumber ekonomik yang sebelumnya dikuasai oleh badan usaha

atau aliran masuk pendapatan. Definisi inilah yang dipakai sebagai standar pengakuan aset dalam

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Oleh karena itu, maka aset memiliki

karakteristik manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti, dikuasai/dikendalikan oleh

entitas, dan timbul akibat transaksi masa lalu (Suwardjono, 2005). Selain itu, dalam rerangka

konseptual akuntansi, elemen dapat diakui dalam suatu laporan keuangan apabila memenuhi

syarat definisi, keterandalan (reliability), keberpautan (relevancy) dan keterukuran

(measurability).

Jika ditinjau dari definisi aset maka terdapat tiga isu penting dalam pengakuan knowledge

sebagai aset, yaitu tentang kepemilikan/penguasaan, pengukuran cukup pasti dan aset yang

berasal dari pembelian dibandingkan yang dihasilkan secara internal. Tacit knowledge saat ini

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

masih menjadi perdebatan, dikarenakan jenis knowledge ini melekat pada individu sumber daya

manusia yang bekerja di suatu organisasi. Perdebatan yang terjadi adalah apakah sebenarnya

knowledge yang melekat pada sumber daya manusia dapat dimiliki (owned by) atau dikontrol

(controlled by) oleh organisasi. Hal ini tentu saja berbeda dengan explicit knowledge yang

mungkin telah dikodifikasi dalam suatu artefak atau organization memory, yang tentu saja

organisasi dapat memiliki maupun menguasainya baik dengan cara pembelian, pemberian,

penemuan, maupun pertukaran. Sebenarnya sejak tahun 1980-an sudah bermunculan modelmodel

untuk menghitung nilai sumber daya manusia pada suatu organisasi, namun sampai saat

ini, sumber daya manusia dan tacit knowledge yang melekat tidak dikategorikan sebagai aset

maupun komponen neraca. Dari beberapa literatur terungkap bahwa yang menjadi alasan tidak

masuknya suatu pos ke dalam kategori aset selain penguasaan adalah pengukuran yang tidak

cukup pasti/keterandalan.

Pengukuran (measurement) yang dimaksud adalah penentuan jumlah rupiah yang harus

dilekatkan pada suatu objek pada saat terjadinya. Ini berbeda dengan penilaian (valuation), jika

pengukuran merupakan pelekatan nilai pada objek pada saat perolehan, maka penilaian adalah

pelekatan nilai pada objek pada saat penyajian. Secara akuntansi, objek harus dapat

direpresentasikan dalam jumlah rupiah sehingga hubungan antar objek dapat bermakna sebagai

informasi. Selain itu, harga yang dapat digunakan sebagai dasar pengukuran objek adalah harga

sepakatan (cost) dalam transaksi antar pihak independen karena nilai ini dianggap obyektif dan

terandalkan. Hal yang sama juga diungkap dalam PSAK no. 19 paragraf 20 (IAI, 2007)

(dimaksudkan agar pembahasan mengarah kepada pengelompokan knowledge sebagai aset

takberwujud), aset takberwujud diakui jika dan hanya jika (a) kemungkinan besar perusahaan

akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan aset tersebut, (b) biaya perolehan aset tersebut

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

dapat diukur secara andal. Apabila dikaitkan dengan knowledge, maka knowledge hanya dapat

diakui sebagai aset apabila diperoleh dengan cara membeli (purchase) bukan dihasilkan secara

internal organisasi karena harga perolehan pada saat pembelian-lah yang dinilai andal, mengapa?

Karena pembelian merupakan transaksi yang melibatkan dua pihak yang independen, sehingga

secara akuntansi dianggap andal.

Bagaimana halnya dengan knowledge yang dibuat (create) secara internal oleh suatu

organisasi? Dalam PSAK no.19 paragraf 33 (IAI, 2007) mengungkapkan bahwa terdapat

kesulitan dalam menentukan apakah suatu aset takberwujud (dalam hal ini knowledge) yang

dihasilkan dalam perusahaan memenuhi kriteria untuk diakui. Kesulitan tersebut terletak pada:

(a) menentukan saat timbulnya aset yang dapat diidentifikasi yang akan menghasilkan manfaat

ekonomis masa datang, (b) menentukan biaya perolehan (kos) secara andal. Oleh sebab itu

PSAK menyarankan perusahaan untuk menggolongkan proses dihasilkannya aset takberwujud

ke dalam dua tahapan, yaitu tahap riset dan pengembangan. Perusahaan tidak boleh mengakui

aset takberwujud yang timbul dari riset, seluruh pengeluaran harus diakui sebagai biaya

(expense) pada saat terjadinya. Salah satu kegiatan riset adalah kegiatan yang ditujukan untuk

memperoleh pengetahuan baru. Berbeda dengan riset, pada tahap pengembangan, pengakuan

aset berdasarkan pada 6 poin kriteria yang salah satu poinnya adalah kemampuan perusahaan

untuk mengukur secara andal pengeluaran yang terkait dengan aset takberwujud selama masa

pengembangannya. Berdasarkan PSAK tersebut maka kegiatan/inisiatif knowledge management

yang pertama kali yaitu knowledge creation tidak dapat diakui secara akuntansi sebagai aset

takberwujud, ditambah dengan ketidakmampuan perusahaan untuk melakukan pengukuran

secara andal knowledge yang dikembangkan.

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

Namun di sisi lain, informasi akuntansi yang berkualitas tidak semata-mata ditentukan

oleh definisi, keterukuran, dan keterandalan saja, keberpautan informasi juga merupakan kriteria

yang penting yang harus dipertimbangkan dalam menyajikan laporan keuangan. Jika inisiatifinisiatif

dalam knowledge management tidak diukur, dinilai, dan disajikan dalam laporan

keuangan, maka dapat terjadi organisasi bisnis dinilai lebih rendah secara akuntansi tetapi lebih

tinggi di pasar. Lev dalam Weber (2008) seorang profesor akuntansi dan keuangan dari Amerika

Serikat menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat yang tergabung

dalam Standard & Poor 500 mempunyai rata-rata nilai market to book ratio lebih besar dari 6, ini

berarti bahwa angka-angka dalam neraca yang merepresentasikan akuntansi tradisional, hanya

mewakili 10%-15% nilai perusahaan yang sesungguhnya, atau dengan kata lain, pasar menilai

lebih tinggi suatu perusahaan dibandingkan dengan nilai akuntansi. Lev beralasan nilai market to

book value yang tinggi dipicu oleh penggunaan aset takberwujud yang semakin banyak, yang

mencapai 67% dibandingkan aset berwujud dan nilai aset takberwujud yang tidak dapat diukur

dengan andal tidak disajikan dalam laporan keuangan. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan

kesalahan dalam pengambilan keputusan stakeholder karena lebih dari 50% data yang digunakan

dalam mengambil keputusan adalah data akuntansi. Riset yang telah dilakukan Lev dalam Weber

(2008) di hampir 1500 perusahaan di Amerika Serikat yang mempunyai investasi pada riset dan

pengembangan (research and development/R&D) yang signifikan, 25% adalah perusahaan yang

telah dinilai rendah oleh investor. Bahkan banyak diantaranya adalah perusahaan software,

biotech dan komputer yang mempunyai nilai R&D yang signifikan namun laba di bawah ratarata

industri. Hal ini berarti cost of capital perusahaan jenis ini sangat besar sehingga mungkin

saja dapat menganggu pertumbuhan perusahaan, padahal nilai investasi R&D yang besar

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

merupakan modal bagi perusahaan untuk mengembangkan inovasi produk yang tentu saja dapat

meningkatkan pendapatan perusahaan di masa yang akan datang.

(b) Alternatif solusi atas pengukuran dan penilaian knowledge

Beberapa alternatif solusi ditawarkan oleh pakar maupun lembaga konsultan, walaupun

mungkin tidak sepenuhnya dapat menjawab permasalahan pengukuran dan penilaian knowledge,

namun alternatif solusi tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki sistem akuntansi

tradisional. Sebelum membahas lebih lanjut beberapa alternatif solusi, perlu diingat bahwa

laporan keuangan yang saat ini dipakai adalah berdasarkan nilai realisasi, bukan nilai penciptaan

(value creation), sehingga pembahasan atas pengukuran knowledge ini mungkin saja menjadi

tidak berpaut dalam sistem akuntansi tradisional. Berikut adalah alternatif solusi atas pengukuran

dan penilaian knowledge:

Kaplan’s Balanced Scorecard

Kaplan telah memperkenalkan sebuah metode pengukuran berdasarkan pada penciptaan

nilai di setiap aktivitas organisasi yang berpedoman pada strategi perusahaan. Tentu saja metode

ini dapat digunakan untuk mengukur penciptaan nilai knowledge asset, karena selain kinerja

keuangan, metode balanced scorecard juga mengukur pelanggan, proses internal, pembelajaran,

dan pertumbuhan (Mulyadi, 2001)

Pada dasarnya dengan menggunakan metoda ini maka akan tercipta sebuah bentuk

laporan tambahan (supplemental reporting) atas laporan keuangan yang sekarang ini sudah ada.

Oleh karena itu sifat dari pelaporan metoda balanced scorecard adalah menyediakan informasi

tentang aset takberwujud (termasuk knowledge asset) yang tidak dilaporkan secara detail pada

laporan keuangan organisasi. Tetapi perlu diperhatikan, bahwa laporan dengan metoda ini sangat

unik untuk tiap individu organisasi dikarenakan metoda pengukuran balanced scorecard

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

berpedoman pada strategi organisasi, sehingga laporan ini tidak dapat dibandingkan dengan

organisasi lain yang mempunyai strategi berbeda (Stone dan Warsono, 2003).

Skandia Navigator

Teknik ini telah dipakai oleh Skandia, perusahaan asuransi yang berlokasi di Swedia,

sejak tahun 1994. Selain Skandia, beberapa perusahaan jasa di Swedia juga menggunakan teknik

ini. Skandia Navigator merupakan model perencanaan bisnis dengan mengidentifikasi area bisnis

kritis dan membangun pengukuran yang relevan atas area bisnis tersebut. Menurut navigator ini

terdapat 5 fokus area yaitu: keuangan (financial), pelanggan (customer), manusia (human),

proses (process), dan pembaharuan dan pengembangan (renewal and development). Dari

masing-masing fokus area ini akan ditentukan indikator beserta pengukurannya. Laporan

Skandia dengan menggunakan navigator ini ditujukan baik untuk internal maupun eksternal

perusahaan. Sebagai contoh adalah navigator yang digunakan oleh SkandiaLink, perusahaan jasa

asuransi ini menitikberatkan pada kepuasaan pelanggan dengan indikator yang digunakan antara

lain: indeks kepuasan pelanggan, jumlah penjualan produk baru, dan waktu respon pada call

center.

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

Gambar 1

Skandia Navigator

Sumber: Bredahl-Ryden (2002)

Intangible Assets Monitor Model

Metoda ini dikenalkan oleh Karl Sveiby dan digunakan dalam laporan sebuah grup

perusahaan jasa di Swedia pada tahun 1988 sebagai laporan tambahan (supplemen) atas laporan

keuangannya (Whestpal, 2008). Metoda ini menggunakan papan nilai (scoreboard) dengan multi

indikator yang terbagi menjadi 3 kategori berbeda yaitu: struktur eksternal, struktur internal, dan

kompetensi individu. Indikator-indikator digunakan untuk mengukur pertumbuhan,

pembaharuan, efisiensi, dan stabilitas/resiko di setiap kategori.

Lev’s Knowledge Earnings

Baruch Lev adalah seorang profesor akuntansi dan keuangan di New York University's

Leonard N. Stern School of Business, ia menciptakan sebuah metoda pengukuran kapital

knowledge sebagai berikut:

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

Knowledge Capital = (Normalized earnings - earnings from tangible and financial

assets)/(Knowledge capital discount rate)

Metoda ini menggunakan pendekatan laba (earnings) historis dan prediksi laba yang akan datang

(Weber, 2008). Rata-rata 3 tahun laba historis dan 3 tahun laba prediksian dari para analis

disebut Lev sebagai normalized earnings yang kemudian harus dikurangi dengan tingkat

kembalian yang diharapkan (expected rate of return) aset yang dapat ditukarkan yaitu aset

berwujud/fisik dan aset moneter yang tercantum dalam neraca. Kontribusi/laba dari kapital

knowledge dapat diperoleh apabila nilai normalized eanings lebih tinggi dibandingkan tingkat

kembalian yang diharapkan dari aset fisik dan moneter. Hasil ini kemudian disesuaikan dengan

nilai sekarang dari diskonto kapital knowledge. Lebih lanjut Lev (2008) menyatakan bahwa

metoda yang dia ciptakan ini bukan bertujuan untuk mengganti akuntansi tradisional, melainkan

untuk memperbaikinya karena akuntansi tradisional tetap dianggap masih efisien.

Strassman’s Knowledge Valuation

Strassman, seorang praktisi sekaligus akademisi di bidang teknologi dan informasi

membuat sebuah pengukuran atas aset knowledge yang disebut dengan knowledge capital

valuation dengan menggunakan pendekatan economics profit. Metoda yang digunakan adalah

sebagai berikut:

Knowledge Capital = (Profits - Financial Capital "Rental")/(interest rate cost of long term

debt)

Strassman (1999) berpendapat bahwa kapital knowledge dapat dihitung karena kapital ini

mempunyai kontribusi penting dalam menghasilkan laba bagi organisasi. Kapital ini harus

dibedakan dengan kapital moneter (financial capital) karena pada dasarnya kapital moneter tidak

dapat menciptakan kemakmuran bagi organisasi, melainkan efektivitas penggunakan kapital

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

knowledge-lah yang berkontribusi pada kemakmuran organisasi. Oleh karena itu Strassman

(1999) lebih lanjut menyatakan bahwa unsur laba yang berasal dari kapital moneter harus

dikeluarkan terlebih dahulu dan untuk memberikan bobot pada nilai tambah kapital knowledge

ini maka harus dibagi dengan tingkat bunga pinjaman jangka panjang, karena tingkat bunga ini

merupakan refleksi dari cost of capital yang ditawarkan oleh pasar.

(c) Prospek Knowledge Accounting

Keunikan karakteristik knowledge menyebabkan berbagai macam solusi untuk mengukur

maupun melaporkan knowledge mempunyai banyak kelemahan. Namun dari berbagai metoda

pengukuran maupun bentuk pelaporan, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar metoda tersebut

tidak bertujuan untuk mengganti sistem akuntansi tradisional yang selama 500 tahun telah

dipakai. Metoda akuntansi tradisional dianggap masih cukup efisien digunakan oleh stakeholder.

Namun demikian, kecukupan informasi masih harus ditambahkan agar laporan keuangan

tradisional lebih berpaut apabila digunakan untuk pengambilan keputusan.

Permasalahan utama sehingga muncul berbagai pengukuran atas intangible assets

khususnya knowledge adalah ketidakmampuan laporan akuntansi tradisional memberikan

informasi yang berpaut dalam pengambilan keputusan. Hal ini menjadi pemicu munculnya

knowledge accounting yaitu akuntansi untuk pengetahuan/knowledge. Namun knowledge

accounting juga memiliki kelemahan dalam hal pengukuran, yaitu keterandalan pengukuran

knowledge dengan semua inisiatifnya. Dengan demkian solusi untuk knowledge accounting ini

tidak pernah dapat sempurna. Selain itu juga banyak kekuatan-kekuatan yang dapat menghalangi

munculnya knowledge accounting, yaitu antara lain kekuatan institusi, sosial, maupun politik.

Sebagaimana diungkapkan oleh Baruch Lev dalam artikel Weber (2008) kendala dalam

penerapan pengukuran maupun pelaporan knowledge adalah berasal dari manajemen, akuntan,

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

analis keuangan, maupun investor institusional. Manajemen mencintai sistem yang saat ini sudah

berjalan, mereka tidak akan mau meletakkan suatu informasi dalam laporan keuangan apabila hal

tersebut tidak menguntungkan bagi mereka. Demikian halnya dengan akuntan, mereka juga

sangat menikmati sistem yang saat ini berjalan karena jika mereka tidak menilai kapital

knowledge maka kewajiban hukum atas diri mereka menjadi berkurang. Analis keuangan dan

investor institusional menikmati keberadaan sistem saat ini karena merasa mereka mempunyai

informasi privat berkaitan dengan perusahaan, sehingga mereka tidak akan bersedia apabila

informasi ini harus dibagi dengan publik. Oleh sebab itu, dibutuhkan pihak-pihak yang

mempunyai kemampuan dan kemauan dalam memperbaiki sistem akuntansi yang saat ini

berjalan, serta merekonsiliasi konflik kepentingan yang terjadi.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki sistem akuntansi saat ini adalah

dengan menambahkan informasi pengukuran kapital knowledge yang dimiliki perusahaan

sebagai laporan tambahan (supplement) atas laporan keuangan. Saran ini tentu saja ditujukan

khususnya untuk perusahaan yang mempunyai nilai knowledge maupun intangible assets lain

yang cukup besar yang mungkin saja tidak tercantum dalam laporan keuangan karena masalah

keterandalan pengukurannya. Melalui laporan tambahan ini diharapkan siapapun yang

membutuhkan informasi perusahaan dapat menggunakan data dalam laporan ini untuk

pengambilan keputusan yang lebih baik.

Pada akhir tahun 2001, sebuah tim task force yang terdiri atas para akademisi,

profesional, komunitas bisnis, dan badan pembuat standar di Amerika Serikat

merekomendasikan 2 hal penting yang berkaitan dengan kecukupan informasi bagi investor

seiring dengan perubahan lingkungan ekonomi (Daum, 2001):

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

(1) membuat suatu rerangka baru untuk laporan tambahan (supplement reporting) aset

takberwujud (intangible assets). Perlu adanya suatu rerangka untuk melaporkan aset takberwujud

dan pengukuran operasional perusahaan agar investor mampu menilai prospek perusahaan di

masa yang akan datang.

(2) menciptakan suatu kondisi agar perusahaan mau berinovasi dalam pengungkapan atas

laporan keuangan (disclousure). Diharapkan peran aktif dari pemerintah untuk mendorong

perusahaan berinovasi dalam mempuat pengungkapan atas laporan keuangan dan membuat

regulasi untuk melindungi perusahaan atas usahanya tersebut. Perusahaan sebaiknya diijinkan

untuk membuat informasi yang mungkin bersifat spekulatif, dengan catatan perusahaan

memberikan peringatan kepada investor dan secara eksplisit menjelaskan bagaimana informasi

tersebut diperoleh.

Dua rekomendasi tersebut dapat dijadikan referensi dalam memperbaiki sistem akuntansi saat ini

akibat dari dinamisme lingkungan ekonomi.

Secara teknis Daum (2001) mengajukan proposal untuk membuat format laporan laba

rugi dan neraca yang dapat memberikan informasi lebih atas prospek perusahaan di masa yang

akan datang. Laporan laba rugi yang saat ini digunakan berfokus pada kos atas produksi yang

sebagian besar berasal dari bahan baku dan tenaga kerja langsung, sehingga komposisi kos

variabel (variable cost) menjadi lebih besar daripada kos tetap (fixed cost). Tentu saja hal ini

berbeda dengan perusahaan yang sarat akan aset takberwujud, perusahaan jenis ini mempunyai

kos tetap yang lebih besar, sehingga apabila investor masih menggunakan akuntansi tradisional

dalam menilai perusahaan jenis ini dikhawatirkan mereka akan mengalami distorsi informasi.

Bentuk laporan laba rugi yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan informasi

perusahaan sarat aktiva takberwujud adalah laporan laba rugi berbasis kas seperti berikut:

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

Pendapatan

dikurangi kos pelayanan pelanggan

dikurangi kos untuk menghasilkan produk/jasa

dikurangi kos untuk mengembangkan produk/jasa

dikurangi kos administrasi

Pendapatan sebelum pajak dan bunga

dikurangi pajak

dikurangi /ditambah penyesuaian nonkas

Laba kas

Laporan laba rugi seperti ini mengganti laba yang dapat dimanipulasi dengan bentuk kas yang

dapat dengan mudah diverifikasi (misalnya dengan melihat laporan kas dan bank). Laporan ini

juga menitikberatkan pada operasional perusahaan modern, seperti berfokus pada pelanggan (kos

pelayanan, penjualan dan pemasaran, dan pengangkutan), menghasilkan produk untuk dijual (kos

manufaktur/penyediaan jasa, bahan baku, dan peralatan), penawaran di masa yang akan datang

(kos penelitian dan pengembangan/research and development, pembentukan knowledge), serta

proxy efisiensi yaitu kos administrasi.

Selain laporan laba rugi, neraca juga mengalami perubahan fokus. Saat ini neraca

merupakan gambaran atas aset perusahaan dan dana yang dibutuhkan untuk membiayai aset

tersebut. Bagi perusahaan yang kegiatan operasionalnya mengalami outsourcing, maka modal

kerja (working capital)nya bisa menjadi negatif, oleh karena itu, maka terjadi pergeseran fokus

neraca untuk perusahaan-perusahaan tersebut, yaitu fokus pada investasi dan pendanaan. Jadi,

neraca untuk perusahaan modern seperti ini bukan menitikberatkan pada aset, kewajiban, dan

ekuitas, melainkan pada investasi dan pendanaan. Pada sisi investasi selain modal kerja, dapat

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

dicantumkan aset tetap, dan aset takberwujud (seperti tenaga kerja berpengetahuan/knowledge

worker, hubungan dengan pelanggan, dan hubungan dengan relasi bisnis yang pengukurannya

dapat menggunakan proxy yang sesuai sebagaimana dibahas sebelumnya). Neraca ini

memberikan informasi kepada pembacanya mengenai investasi masa depan perusahaan.

Laporan aliran kas juga sebaiknya dimodifikasi untuk mendapatkan informasi yang lebih

berpaut, yaitu dengan berfokus pada aliran kas bebas (free cash flow) yang merupakan selisih

dari laba kas (yang diperoleh dari laporan laba rugi) dengan aktivitas investasi (modal kerja, aset

tetap, dan aset takberwujud). Dengan melakukan modifikasi atas laporan keuangan, diharapkan

dapat memberikan informasi lebih kepada pengguna seiring dengan perkembangan perusahaan

dan lingkungan ekonomi di sekitarnya.

(d) Bagaimana di Indonesia?

Indonesia menyelenggarakan ajang pemberian penghargaan bagi perusahaan-perusahaan

yang berhasil dalam pengelolaan knowledge (knowledge management), yaitu MAKE (Most

Admired Knowledge Entreprise) Awards sejak 2005, dengan mengumpulkan data dari hasil riset

Dunamis Organization Services. Pada tahun tersebut Indonesia telah berhasil mengirimkan 3

peraih MAKE Awards ke ajang ASIAN MAKE. Sampai sekarang, ajang ini secara periodik terus

dilaksanakan dengan jumlah peserta dari waktu ke waktu selalu mengalami peningkatan. Hal ini

tentu saja membuktikan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah banyak yang memiliki

kapital knowledge dan memerlukan perhatian dan pengelolaan. Salah satu cara pengelolaan yaitu

dengan cara mengukur, menilai, dan melaporkan dalam laporan tahunan dengan harapan pihakpihak

yang berkepentingan terhadap perusahaan dapat mengetahui kekayaan perusahaan berupa

kapital knowledge ini dan bersama-sama perusahaan mengembangkan inisiatif-inisiatif

knowledge yang bertujuan untuk meningkatkan nilai (value) perusahaan.

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

Dilihat dari laporan keuangan perusahaan, beberapa pemenang MAKE Awards 2007

memiliki nilai market to book di atas 1, seperti terlihat di bawah ini:

Tabel 1

Market to Book Value Pemenang MAKE Awards 2007

Nama perusahaan Market to Book Value 2006 Market to Book Value 2007

Excelcomindo Pratama 0,018 0,020

Unilever Indonesia 1,266 1,604

United Tractors 4,065 5,421

Astra Internasional 2,841 4,099

Sumber: www.idx.co.id, laporan keuangan XL, Unilever, United Tractors, Astra (2008)

Dari data tersebut terlihat bahwa di Indonesia juga terjadi fenomena dimana investor

memberikan nilai lebih kepada perusahaan-perusahaan modern yang mengelola knowledge

dengan baik, yaitu dari sampel 4 pemenang, 3 diantaranya mempunyai market to book value

lebih dari 1 dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun berikutnya. Hal ini

seharusnya menjadi sinyal bahwa nilai yang tercantum dalam laporan keuangan kurang berpaut

dengan kondisi lingkungan ekonomi perusahaan. Pihak-pihak terkait seperti komunitas bisnis,

akademisi, profesional, maupun badan standar hendaknya mulai memikirkan perkembangan ini

dan diharapkan dapat memberikan rekomendasi berkaitan dengan hal tersebut.

Secara umum, perusahaan-perusahaan go public di Indonesia telah mengungkapkan

beberapa informasi yang tidak dapat dicantumkan dalam laporan keuangan karena keterandalan

pengukurannya. Walaupun sifat pengungkapan laporan keuangan (disclosure) yang paling

banyak dilakukan oleh perusahaan Indonesia adalah wajib (mandatory), namun seiring dengan

persaingan usaha dan keinginan untuk mendapatkan peyandang dana, maka sifat pengungkapan

mulai bergeser ke arah sukarela (voluntary). Pergeseran ini hendaknya diikuti dengan respon

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

positif dari profesional, badan standar maupun pemerintah dengan menerbitkan standar maupun

regulasi yang mendorong perusahaan untuk mengungkapkan informasi lebih transparan kepada

pihak-pihak berkepentingan.

Khusus bagi perusahaan-perusahaan yang sarat aset takberwujud, seperti industri

teknologi, telekomunikasi, bioteknologi, dan farmasi di Indonesia masih menggunakan bentuk

laporan standar yang diwajibkan oleh pemerintah dan badan standar, namun laporan tambahan

atas aset takberwujud yang dimiliki perusahaan masih sangat minim, bahkan sebagian besar

perusahaan hanya melaporkannya dalam laporan tahunan berupa informasi kualitatif tanpa

melakukan perhitungan kuantitatif dan interpretasi.

Pada akhirnya, semua tinjauan ini tentu saja kembali kepada rerangka konseptual kualitas

informasi akuntansi, yaitu nilai manfaat harus lebih besar dari kos untuk menyajikannya. Apabila

dirasa manfaat yang akan dihasilkan dari laporan tambahan atas kapital knowledge lebih besar

dari kos yang dikeluarkan maka perusahaan dapat menyajikannya baik secara kualitatif maupun

kuantitatif. Manfaat dan kos sebaiknya tidak hanya yang bersifat moneter saja, tetapi non

moneter juga harus dipertimbangkan.

SIMPULAN

Lingkungan bisnis terus mengalami perkembangan, terutama dengan banyaknya

perusahaan-perusahaan yang sarat akan aset takberwujud, khususnya knowledge. Perkembangan

ini menyebabkan informasi yang tercantum dalam laporan keuangan menjadi tidak berpaut

karena inisiatif-inisiatif pengelolaan dan penciptaan knowledge merupakan aset yang secara

andal tidak dapat diukur dan dicantumkan dalam laporan keuangan. Kelemahan akuntansi

tradisional dikhawatirkan akan mendistorsi informasi yang diterima oleh pihak-pihak yang

berkepentingan terhadap perusahaan. Kelemahan ini dapat diatasi dengan memperbaiki sisem

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

akuntansi tradisional dan tidak mengganti sistem akuntansi yang ada saat ini karena dianggap

banyak pihak masih efisien.

Berbagai metoda pengukuran dan penilaian atas knowledge dapat digunakan sebagai

tambahan informasi pada laporan keuangan dengan harapan penyandang dana, dan siapapun

yang berkepentingan terhadap perusahaan dapat menilai perusahaan lebih obyektif dan

menentukan prospek perusahaan di masa yang akan datang dengan lebih baik.

Knowledge accounting atau akuntansi pengetahuan merupakan isu menarik yang

seharusnya mendapat perhatian dari investor, pemerintah, profesional, maupun komunitas bisnis.

Bagaimana membuat regulasi dan standar yang mampu mengadopsi knowledge accounting dan

merekonsiliasi konflik kepentingan yang terjadi atas isu ini.

Fenomena distorsi informasi akibat keusangan sistem akuntansi sudah terlihat di

perusahaan modern Indonesia. Saat ini perusahaan-perusahaan tersebut hanya melaporkan

kepada publik sekedar memenuhi tanggung jawab yang bersifat wajib saja. Perlu ada dorongan

dari pemerintah, badan standar, akademis, maupun profesional agar perusahaan-perusahaan di

Indonesia mau dan mampu melaporkan informasi yang tidak tercantum dalam laporan keuangan

standar ke dalam laporan tambahan. Tentu saja untuk melakukan hal tersebut harus diingat

bahwa nilai manfaat penyajiannya harus melebihi kosnya.

REFERENSI

Bredahl dan Ryden. “The Skandia Navigator.” www.controller-forum.com2002/vortr/ Bredahl-

Ryden.pdf. diunduh tanggal 20 Juni 2008.

Daum, Juergen. 2001. ”How Accounting gets More Radical Measuring What Really Matters to

Investor”. New Ecomony Analyst Report

Financial Accounting Standards Board (FASB). 1991.”Statement of Financial Accounting

Concepts. Irwin. Homewood, Illinois.

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008

Holsapple, Clyde W. 2003. “ Knowledge and Its Attributes,” Handbook on Knowledge

Management I.. Springer. Jerman

Holsapple, Clyde W, dan K.D Joshi. 2003. “ A Knowledge Management Ontology,” Handbook

on Knowledge Management I, Springer. Jerman

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2007. ”Standar Akuntansi Keuangan.” Salemba Empat, Jakarta.

Mulyadi. 2001. “Balance Scorecard: Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatganda Kinerja

Keuangan Perusahaan..” Salemba Empat. Jakarta.

Skyrme, David. “Valuing Knowledge: Is It Worth It?” http://www.skyrme.com/pubs/im0398.

htmdiunduh tanggal 12 Mei 2008.

Spender, JC. 2003. ”Knowledge Field: Some Post 9/11 Thoughts About Knowledge-Based

Theory of The Firm. Handbook on Knowledge Management I, Springer. Jerman

Stone, Dan N, dan Sony Warsono. 2003. ”Does Accounting Account for Knowledge?”

Handbook on Knowledge Management 1. Springer. Jerman

Strassman, Paul A. “Calculating Knowledge Capital.” http://www.strassman.com/pubs/calckm.

html diunduh tanggal 30 April 2008.

Suwardjono. 2005. ”Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan.” Edisi ketiga. BPFE

Yogyakarta

Weber, Alan M. “New Math for A New Economy.” http://www.fastcompany.com/

magazine/31/lev.html diunduh tanggal 10 Juni 2008.

Whestpal, Jeff. “Known Knowledge Capital Valuation Techniques.” www.

Actkm.org/userfiles/File/articles/kresponse-Measurements-12-5-00.htm diunduh tanggal 4

Juni 2008.

www.idx.com

The 2nd National Conference UKWMS

Surabaya, 6 September 2008